BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Pendidikan dan agama merupakan dua
komponen yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Agama merupakan
landasan terpenting bagi pendidikan, karenanya ilmu pendidikan yang dilandasi
agama akan menjadikannya sumber referensi dan inspirasi yang bermakna guna
menyusun dan merefleksikannya dalam kehidupan. Di tanah Serambi Mekkah (Aceh)
pendidikan dan agama bagaikan seutas tali yang saling menguatkan antara kedua
untaiannya, menjadikannya ibu kandung bagi rujukan pembentukan hukum adat Aceh
yang merupakan turunan refleksi daripada pendidikan dan agama yang berlaku pada
saat itu.
Eksistensi pendidikan dan agama
berabad-abad lamanya di tanah Aceh banyak melahirkan tokoh-tokoh spiritual dan
akademis yang mewarnai khazanah perjuangan negeri ini, seperti: Syekh Abuya
Muda Wali Al-Khalidy, Teuku Nyak Arief, dan Mr. Teuku Moehammad Hasan.
1.2
Rumusan Masalah
1. Bagaimana peranan tokoh Dr. Mr. Teuku Moehammad Hasan
Dalam Bidang Pendidikan dan Agama bagi masyarakat Aceh?
1.3
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui peranan penting tokoh Dr. Mr. Teuku Moehammad Hasan Dalam Bidang Pendidikan dan Agama bagi masyarakat Aceh.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Peranan Dr.
Mr. Teuku Moehammad Hasan Dalam Bidang Pendidikan dan Agama
Peranan pendidikan dan agama yang dibawa
oleh para ulama, bangsawan, pedagang, dan musafir pada abad ke-15 ke tanah Aceh
bersamaan dengan berkembangnya agama Islam di Aceh dan seluruh nusantara berefek
positif karena dari tangan dan buah pikir para ulama hingga musafir telah
banyak melahirkan tokoh-tokoh pemikir akademisi dan ulama bagi Aceh, seperti:
Syekh Abuya Muda Wali Al-Khalidy, Teuku Nyak Arief, dan Mr. Teuku Moehammad
Hasan.
Tokoh-tokoh tersebut merupakan pribadi
inspiratif bagi pendidikan dan agama yang mampu memberikan dedikasi bagi
perkembangan generasi muda Aceh. Seperti Syekh Abuya Muda Wali Al-Khalidy yang
berkiprah dibidang agama dan pendidikan Islam yang berhasil mendirikan
Pasantren Darussalam di Labuhan Haji, yang mahsyur namanya dan hingga kini
terus melahirkan santri-santri bahkan ulama-ulama untuk tanah Aceh. Demikian
pula dengan Teuku Nyak Arief dan Mr. Teuku Moehammad Hasan yang merupakan dua
sosok bangsawan yang sangat memerhatikan peningkatan pendidikan bagi
orang-orang yang tidak mampu. Teuku Nyak Arief bersama dengan Mr. Teuku
Moehammad Hasan membangun Taman Siswa yang merupakan cabang dari Lembaga yang
didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam hal ini Teuku Nyak Arief menjabat sebagai
sekretaris sedangkan Mr. Teuku Moehammad Hasan sebagai ketuanya. Selain itu
Teuku Nyak Arief masih bersama dengan Mr. Teuku Moehammad Hasan menjadi pelopor
berdirinya organisasi Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh) merupakan
organisasi yang menghimpun dana bagi anak-anak Aceh yang tidak mampu
bersekolah.
Di sisilain, Mr. Teuku Moehammad Hasan
merupakan satu dari sekian banyak pahlawan revolusi kemerdekaan Indonesia yang
berasal dari Aceh, bersama dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh lainnya mempersiapkan
kemerdekaan Indonesia serta merumuskan ke-5 sila dari Pancasila sebagai
ideologi negara.
Mr. Teuku Moehammad Hasan dilahirkan pada
4 April 1906 di Sigli, Aceh. Ayahnya merupakan seorang Ulee Balang Pidie
bernama Teuku Bintara Pineung Ibrahim serta ibunya bernama Tjut Manyak. Sebagai
seorang anak bangsawan Pidie terkemuka Mr. Teuku Moehammad Hasan menempuh jenjang
pendidikannya disekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda. Tahun 1924 beliau
melanjutkan pendidikannya di sekolah berbahasa Belanda Europeesche Lagere
School (ELS) yang merupakan sekolah bagi anak-anak Eropa dan Bangsawan,
selanjutnya ke Koningen Wihelmina School (KWS) atau kini lebih dikenal dengan
SMA I Budi Utomo di Batavia (kini Jakarta). Dilanjutkan dengan masuk ke
Rechtscoogeschool/Sekolah Tinggi Hukum. Berbagai prestasi akademik diraihnya
selama di bangku persekolahan.
Di usia 25 tahun, Mr. Teuku Moehammad
Hasan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri di Universitas Leiden, Belanda.
Semenjak diterapkannya kebijakan politik etis (Etische Politiek) di Indonesia,
Belanda kerap menjadi destinasi pendidikan bagi kawula muda Indonesia yang
tersebar di universitas-universitas terkemuda di Negeri Kincir Angin (Belanda).
Yang pada akhirnya banyak melahirkan tokoh-tokoh akademisi serta politisi
seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ali Sastromidjojo, Ahmad Soebardjo dan
lainnya yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia semenjak mereka masih
dibangku perguruan tinggi. Semenjak di perguruan tinggi Mr. Teuku Moehammad
Hasan telah aktif berorganisasi dengan tokoh-tokoh lainnya seperti bergabung
dengan Perhimpunan Indonesia (PI) yang didirikan oleh Moh. Hatta, Nasir Ali
Pamuntjak dan Ali Sastromidjojo. Di tahun 1933 Mr. Teuku Moehammad Hasan
mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Master of Laws) dari Universitas
Leiden, Belanda.
Anthony Reid dalam bukunya yang berjudul The Blood of the People Revolution and the
End of Traditional Rule in Northern Sumatera (1979), menuturkan bahwasannya
Mr. Teuku Moehammad Hasan merupakan sosok yang alim, tekun belajar dan cepat
dalam menyelesaikan pendidikannya. Dalam waktu satu setengah tahun beliau
berhasil menyelesaikan jenjang Pendidikan studi hukumnya dengan predikat
memuaskan serta berhak menyandang gelar Meester
in de Rechten (Mr).
Setelah menyelesaikan jenjang
perkuliahannya di luar negeri Mr. Teuku Moehammad Hasan kembali ke tanah airnya
Indonesia. Keaktifannya di organisasi perjuangan kemerdekaan bersama para tokoh
telah sampai ke telinga pemerintah kolonial Belanda di Aceh Setibanya di
Pelabuhan Ulee Lheue, Kutaraja beliau dicurigai akan melakukan pergerakan
berbahaya yang dibuktikan dengan disita sejumlah buku-bukunya. Selama berada di
Aceh, beliau aktif menjadi pelopor di bidang agama dan pendidikan.
Dalam usahanya di bidang pendidikan beliau
menjadi komisaris organisasi pendidikan bernama Perkumpulan Usaha Sama Akan
Kemajuan Anak (PUSAKA). Organisasi ini bertujuan untuk mewujudkan sebuah
sekolah rendah yang berbahasa Belanda seperti Hollandsch-Inlandsche School. Langkah
lainnya yang diambil oleh Mr. Teuku Moehammad Hasan dalam aktivitasnya sebagai
aktivis di bidang agama dan pendidikan di tanggal 11 Juli 1937 beliau
mendirikan Perguruan Taman Siswa bertempat di Kutaraja, Aceh. Dalam
kepengurusan kelembagaan yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara ini, Mr.
Teuku Moehammad Hasan menjadi ketua serta dibantu oleh Teuku Nyak Arief sebagai
sekretarisnya. Setelah pembentukan lembaga ini beliau mengirim utusan Teuku M.
Usman el Muhammady untuk bertemu dengan Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta.
Tujuannya agar Ki Hajar Dewantara selaku inisiator dari Perguruan Taman Siswa
mau untuk memperluas jaringannya ke Aceh. Berdasarkan permohonan itu, melalui
Majelis Luhur Taman Siswa mengirimkan utusan tiga orang gurunya ke Aceh, yakni
Ki Soewondo Kartoprojo beserta istrinya dan Soetikno Padmosoemarto. Seiring
berjalannya waktu Mr. Teuku Moehammad Hasan beserta Teuku Nyak Arief dan
pengurus Perguruan Taman Siswa cabang Aceh berhasil membuka empat sekolah Taman
Siswa di Kutaraja, Aceh yaitu Taman Anak dan Taman Muda.
Semenjak kekalahan Jepang atas sekutu pada
Perang Dunia II (Dua) tahun 1945, Mr. Teuku Moehammad Hasan berdasarkan atas
kecakapan dan pengalamannya semenjak di bangku perguruan tinggi bersama dengan
para tokoh lainnya, tanggal 7 Agustus 1945 beliau satu-satunya tokoh dari Aceh
yang dipilih bergabung dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) diketuai oleh Ir. Soekarno. Dan ikut andil dalam perubahan
butir pertama teks Piagam Jakarta yang selanjutnya menjadi butir-butir dalam
penetapan ke-5 sila dalam Pancasila, karena perubahan butir pertama itulah
beliau dinobatkan sebagai “Bapak Pemersatu Bangsa”. Setelah kemerdekaan
Indonesia tanggal 22 Agustus 1945 Mr. Teuku Moehammad Hasan diangkat menjadi
Gubernur Sumatera I dengan Ibukota Medan.
Semenjak sepeninggal Jepang dan proklamasi
kemerdekaan serta agresi militer Belanda I dan II, Mr. Teuku Moehammad Hasan
kebanyakan aktiv dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari usaha
penjajahan kembali. Selain itu juga aktiv dalam dunia perpolitikan nasional
yang ditunjuk oleh presiden guna menjabat jabatan-jabatan strategis dalam
urusan kenegaraan seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Agama.
Salah satu kiprah Mr. Teuku Moehammad
Hasan dalam bidang pendidikan dan agama yang masih dapat dirasakan sampai saat
ini dan mengakar kuat ialah didirikannya Yayasan Pembangunan Serambi Mekkah (YPSM)
yang didalamnya menaungi salah satu universitas terbaik di Aceh yaitu
Universitas Serambi Mekkah (USM). Yang kini universitas tersebut telah
turun-temurun diwariskan kepada anak cucu beliau sebagai salah satu contoh
bentuk kecintaan dari Mr. Teuku Moehammad Hasan kepada dunia agama dan
pendidikan khususnya bagi masyarakat Aceh itu sendiri. Selain itu beliau juga
ikut andil dalam pendirian beberapa universitas ternama lainnya seperti ikut
andil dalam mendirikan Universitas Indonesia (UI) dan ikut adil dalam pendirian
Universitas Islam Jakarta (UIJ).
Usaha beliau lainnya tertuang dalam salah
satu karangan bukunya yang berjudul Sejarah Perminyakan di Indonesia. Yang
merupakan buku yang mengisahkan perjalanan hidup beliau dan usahanya dalam
memperjuangkan serta menasionalisasikan beberapa perusahaan minyak dan gas asing
menjadi Pertamina (Pertambangan Mintak dan Gas Bumi Negara) pada tahun 1968.
Berkat jasa-jasanya kepada NKRI (Negara
Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1990 Mr. Teuku Moehammad Hasan
dianugerahkan gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Sumatera Utara. Serta
berdasarkan pada Surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 085/TK/Tahun 2006
tertanggal 3 November 2006 dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah
Republik Indonesia. Serta nama beliau dinobatkan sebagai nama sebuah jalan di
pusat kota Banda Aceh dengan nama Jalan Mr. Teuku Moehammad Hasan.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Berikut sekilas biografi serta perjalanan
hidup sosok Mr. Teuku Moehammad Hasan dalam usaha beliau untuk mencerdaskan
anak bangsa terkhusus anak-anak Aceh melalui agama dan pendidikan.
Sebagai salah seorang tokoh pahlawan
nasional dari bumi Serambi Mekkah tentunya eksistensi dan jasa yang diberikan
oleh sosok Mr. Teuku Moehammad Hasan dalam bidang pendidikan dan agama harus
untuk selalu dikenang. Serta sosoknya yang alim, pemberani, dan berwawasan luas
patut untuk ditiru khususnya bagi generasi muda Aceh yang nantinya akan
memegang tongkat estafet kepemimpinan Aceh ini.
3.2 Saran
Menuntut
ilmu merupakan hal yang penting karena dengan ilmu pengetahuan segala mimpi dapat
digapai seperti kata pepatah “Tuntutlah Ilmu Dari Ayunan Hingga Liang Lahat”.
Bagaimana didalam pepatah tersebut disematkan makna yang mendalam yang mana
betapa pentingnya menuntut ilmu tersebut. Tentunya didalam penulisan ini banyak
kekurangan dan kesalahan yang secara sadar penulis yakini, semoga pembaca dapat
memakluminya.

Komentar
Posting Komentar