Langsung ke konten utama

Konflik dan Penyelesaian

M. RIDHA ILHAMSYAH “KONFLIK DAN PENYELESAIAN” TUGAS MATA KULIAH    DASAR-DASAR SOSIOLOGI DOSEN PENGASUH: Drs. ANWAR YOESOF M.Si SUFANDI ISWANTO S.Pd, M.Pd 1.        PENGERTIAN KONFLIK              Konflik adalah  suatu proses sosial antara dua individu atau kelompok sosial dimana masing-masing pihak berusaha untuk menyingkirkan pihak lain demi mencapai tujuannya dengan cara memberikan perlawanan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan. Dan juga istilah “konflik” berasal dari bahasa Inggris, yaitu  “conflict”  yang artinya pertentangan atau perselisihan. Konflik adalah proses disosiatif dalam interaksi sosial yang terjadi ketika semua pihak dalam masyarakat ingin mencapai tujuannya dalam waktu bersamaan. Konflik dapat dikatakan benturan kekuatan dan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya yang terjadi karena perebutan sumber-sumber kemasyarakatan yai...

Peranan Dr. Mr. Teuku Moehammad Hasan Serta Warisannya Bagi Masyarakat Aceh

 



Kiprah Dr. Mr. Teuku Moehammad Hasan Dalam Bidang Pendidikan dan Agama

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Pendidikan dan agama merupakan dua komponen yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Agama merupakan landasan terpenting bagi pendidikan, karenanya ilmu pendidikan yang dilandasi agama akan menjadikannya sumber referensi dan inspirasi yang bermakna guna menyusun dan merefleksikannya dalam kehidupan. Di tanah Serambi Mekkah (Aceh) pendidikan dan agama bagaikan seutas tali yang saling menguatkan antara kedua untaiannya, menjadikannya ibu kandung bagi rujukan pembentukan hukum adat Aceh yang merupakan turunan refleksi daripada pendidikan dan agama yang berlaku pada saat itu.

Eksistensi pendidikan dan agama berabad-abad lamanya di tanah Aceh banyak melahirkan tokoh-tokoh spiritual dan akademis yang mewarnai khazanah perjuangan negeri ini, seperti: Syekh Abuya Muda Wali Al-Khalidy, Teuku Nyak Arief, dan Mr. Teuku Moehammad Hasan.

1.2  Rumusan Masalah

1. Bagaimana peranan tokoh Dr. Mr. Teuku Moehammad Hasan Dalam Bidang Pendidikan dan Agama bagi masyarakat Aceh?

1.3    Tujuan Penelitian

1.   Untuk mengetahui peranan penting tokoh Dr. Mr. Teuku Moehammad Hasan Dalam Bidang Pendidikan dan Agama bagi masyarakat Aceh.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Peranan Dr. Mr. Teuku Moehammad Hasan Dalam Bidang Pendidikan dan Agama

Peranan pendidikan dan agama yang dibawa oleh para ulama, bangsawan, pedagang, dan musafir pada abad ke-15 ke tanah Aceh bersamaan dengan berkembangnya agama Islam di Aceh dan seluruh nusantara berefek positif karena dari tangan dan buah pikir para ulama hingga musafir telah banyak melahirkan tokoh-tokoh pemikir akademisi dan ulama bagi Aceh, seperti: Syekh Abuya Muda Wali Al-Khalidy, Teuku Nyak Arief, dan Mr. Teuku Moehammad Hasan.

 Tokoh-tokoh tersebut merupakan pribadi inspiratif bagi pendidikan dan agama yang mampu memberikan dedikasi bagi perkembangan generasi muda Aceh. Seperti Syekh Abuya Muda Wali Al-Khalidy yang berkiprah dibidang agama dan pendidikan Islam yang berhasil mendirikan Pasantren Darussalam di Labuhan Haji, yang mahsyur namanya dan hingga kini terus melahirkan santri-santri bahkan ulama-ulama untuk tanah Aceh. Demikian pula dengan Teuku Nyak Arief dan Mr. Teuku Moehammad Hasan yang merupakan dua sosok bangsawan yang sangat memerhatikan peningkatan pendidikan bagi orang-orang yang tidak mampu. Teuku Nyak Arief bersama dengan Mr. Teuku Moehammad Hasan membangun Taman Siswa yang merupakan cabang dari Lembaga yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam hal ini Teuku Nyak Arief menjabat sebagai sekretaris sedangkan Mr. Teuku Moehammad Hasan sebagai ketuanya. Selain itu Teuku Nyak Arief masih bersama dengan Mr. Teuku Moehammad Hasan menjadi pelopor berdirinya organisasi Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh) merupakan organisasi yang menghimpun dana bagi anak-anak Aceh yang tidak mampu bersekolah.

Di sisilain, Mr. Teuku Moehammad Hasan merupakan satu dari sekian banyak pahlawan revolusi kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Aceh, bersama dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh lainnya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia serta merumuskan ke-5 sila dari Pancasila sebagai ideologi negara.

Mr. Teuku Moehammad Hasan dilahirkan pada 4 April 1906 di Sigli, Aceh. Ayahnya merupakan seorang Ulee Balang Pidie bernama Teuku Bintara Pineung Ibrahim serta ibunya bernama Tjut Manyak. Sebagai seorang anak bangsawan Pidie terkemuka Mr. Teuku Moehammad Hasan menempuh jenjang pendidikannya disekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda. Tahun 1924 beliau melanjutkan pendidikannya di sekolah berbahasa Belanda Europeesche Lagere School (ELS) yang merupakan sekolah bagi anak-anak Eropa dan Bangsawan, selanjutnya ke Koningen Wihelmina School (KWS) atau kini lebih dikenal dengan SMA I Budi Utomo di Batavia (kini Jakarta). Dilanjutkan dengan masuk ke Rechtscoogeschool/Sekolah Tinggi Hukum. Berbagai prestasi akademik diraihnya selama di bangku persekolahan.

Di usia 25 tahun, Mr. Teuku Moehammad Hasan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri di Universitas Leiden, Belanda. Semenjak diterapkannya kebijakan politik etis (Etische Politiek) di Indonesia, Belanda kerap menjadi destinasi pendidikan bagi kawula muda Indonesia yang tersebar di universitas-universitas terkemuda di Negeri Kincir Angin (Belanda). Yang pada akhirnya banyak melahirkan tokoh-tokoh akademisi serta politisi seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ali Sastromidjojo, Ahmad Soebardjo dan lainnya yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia semenjak mereka masih dibangku perguruan tinggi. Semenjak di perguruan tinggi Mr. Teuku Moehammad Hasan telah aktif berorganisasi dengan tokoh-tokoh lainnya seperti bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI) yang didirikan oleh Moh. Hatta, Nasir Ali Pamuntjak dan Ali Sastromidjojo. Di tahun 1933 Mr. Teuku Moehammad Hasan mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Master of Laws) dari Universitas Leiden, Belanda.

Anthony Reid dalam bukunya yang berjudul The Blood of the People Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatera (1979), menuturkan bahwasannya Mr. Teuku Moehammad Hasan merupakan sosok yang alim, tekun belajar dan cepat dalam menyelesaikan pendidikannya. Dalam waktu satu setengah tahun beliau berhasil menyelesaikan jenjang Pendidikan studi hukumnya dengan predikat memuaskan serta berhak menyandang gelar Meester in de Rechten (Mr).

Setelah menyelesaikan jenjang perkuliahannya di luar negeri Mr. Teuku Moehammad Hasan kembali ke tanah airnya Indonesia. Keaktifannya di organisasi perjuangan kemerdekaan bersama para tokoh telah sampai ke telinga pemerintah kolonial Belanda di Aceh Setibanya di Pelabuhan Ulee Lheue, Kutaraja beliau dicurigai akan melakukan pergerakan berbahaya yang dibuktikan dengan disita sejumlah buku-bukunya. Selama berada di Aceh, beliau aktif menjadi pelopor di bidang agama dan pendidikan.

Dalam usahanya di bidang pendidikan beliau menjadi komisaris organisasi pendidikan bernama Perkumpulan Usaha Sama Akan Kemajuan Anak (PUSAKA). Organisasi ini bertujuan untuk mewujudkan sebuah sekolah rendah yang berbahasa Belanda seperti Hollandsch-Inlandsche School. Langkah lainnya yang diambil oleh Mr. Teuku Moehammad Hasan dalam aktivitasnya sebagai aktivis di bidang agama dan pendidikan di tanggal 11 Juli 1937 beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa bertempat di Kutaraja, Aceh. Dalam kepengurusan kelembagaan yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara ini, Mr. Teuku Moehammad Hasan menjadi ketua serta dibantu oleh Teuku Nyak Arief sebagai sekretarisnya. Setelah pembentukan lembaga ini beliau mengirim utusan Teuku M. Usman el Muhammady untuk bertemu dengan Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Tujuannya agar Ki Hajar Dewantara selaku inisiator dari Perguruan Taman Siswa mau untuk memperluas jaringannya ke Aceh. Berdasarkan permohonan itu, melalui Majelis Luhur Taman Siswa mengirimkan utusan tiga orang gurunya ke Aceh, yakni Ki Soewondo Kartoprojo beserta istrinya dan Soetikno Padmosoemarto. Seiring berjalannya waktu Mr. Teuku Moehammad Hasan beserta Teuku Nyak Arief dan pengurus Perguruan Taman Siswa cabang Aceh berhasil membuka empat sekolah Taman Siswa di Kutaraja, Aceh yaitu Taman Anak dan Taman Muda.

Semenjak kekalahan Jepang atas sekutu pada Perang Dunia II (Dua) tahun 1945, Mr. Teuku Moehammad Hasan berdasarkan atas kecakapan dan pengalamannya semenjak di bangku perguruan tinggi bersama dengan para tokoh lainnya, tanggal 7 Agustus 1945 beliau satu-satunya tokoh dari Aceh yang dipilih bergabung dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) diketuai oleh Ir. Soekarno. Dan ikut andil dalam perubahan butir pertama teks Piagam Jakarta yang selanjutnya menjadi butir-butir dalam penetapan ke-5 sila dalam Pancasila, karena perubahan butir pertama itulah beliau dinobatkan sebagai “Bapak Pemersatu Bangsa”. Setelah kemerdekaan Indonesia tanggal 22 Agustus 1945 Mr. Teuku Moehammad Hasan diangkat menjadi Gubernur Sumatera I dengan Ibukota Medan.

Semenjak sepeninggal Jepang dan proklamasi kemerdekaan serta agresi militer Belanda I dan II, Mr. Teuku Moehammad Hasan kebanyakan aktiv dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari usaha penjajahan kembali. Selain itu juga aktiv dalam dunia perpolitikan nasional yang ditunjuk oleh presiden guna menjabat jabatan-jabatan strategis dalam urusan kenegaraan seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Agama.

Salah satu kiprah Mr. Teuku Moehammad Hasan dalam bidang pendidikan dan agama yang masih dapat dirasakan sampai saat ini dan mengakar kuat ialah didirikannya Yayasan Pembangunan Serambi Mekkah (YPSM) yang didalamnya menaungi salah satu universitas terbaik di Aceh yaitu Universitas Serambi Mekkah (USM). Yang kini universitas tersebut telah turun-temurun diwariskan kepada anak cucu beliau sebagai salah satu contoh bentuk kecintaan dari Mr. Teuku Moehammad Hasan kepada dunia agama dan pendidikan khususnya bagi masyarakat Aceh itu sendiri. Selain itu beliau juga ikut andil dalam pendirian beberapa universitas ternama lainnya seperti ikut andil dalam mendirikan Universitas Indonesia (UI) dan ikut adil dalam pendirian Universitas Islam Jakarta (UIJ).

Usaha beliau lainnya tertuang dalam salah satu karangan bukunya yang berjudul Sejarah Perminyakan di Indonesia. Yang merupakan buku yang mengisahkan perjalanan hidup beliau dan usahanya dalam memperjuangkan serta menasionalisasikan beberapa perusahaan minyak dan gas asing menjadi Pertamina (Pertambangan Mintak dan Gas Bumi Negara) pada tahun 1968.

Berkat jasa-jasanya kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1990 Mr. Teuku Moehammad Hasan dianugerahkan gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Sumatera Utara. Serta berdasarkan pada Surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006 dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia. Serta nama beliau dinobatkan sebagai nama sebuah jalan di pusat kota Banda Aceh dengan nama Jalan Mr. Teuku Moehammad Hasan.


BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan         

Berikut sekilas biografi serta perjalanan hidup sosok Mr. Teuku Moehammad Hasan dalam usaha beliau untuk mencerdaskan anak bangsa terkhusus anak-anak Aceh melalui agama dan pendidikan.

Sebagai salah seorang tokoh pahlawan nasional dari bumi Serambi Mekkah tentunya eksistensi dan jasa yang diberikan oleh sosok Mr. Teuku Moehammad Hasan dalam bidang pendidikan dan agama harus untuk selalu dikenang. Serta sosoknya yang alim, pemberani, dan berwawasan luas patut untuk ditiru khususnya bagi generasi muda Aceh yang nantinya akan memegang tongkat estafet kepemimpinan Aceh ini.

3.2 Saran

            Menuntut ilmu merupakan hal yang penting karena dengan ilmu pengetahuan segala mimpi dapat digapai seperti kata pepatah “Tuntutlah Ilmu Dari Ayunan Hingga Liang Lahat”. Bagaimana didalam pepatah tersebut disematkan makna yang mendalam yang mana betapa pentingnya menuntut ilmu tersebut. Tentunya didalam penulisan ini banyak kekurangan dan kesalahan yang secara sadar penulis yakini, semoga pembaca dapat memakluminya.

 

 

Komentar